Makam Ragasemangsang (Istimewa)


Sebuah makam di tengah jalan, tepatnya di Jalan Ragasemangsang kota Purwokerto, Jawa Tengah memiliki kisah yang tak terduga. Misteri makam Ragasemangsang ini masih belum terungkap dengan jelas. Pasalnya, ada berbagai versi cerita yang beredar di masyarakat Banyumas secara turun temurun.

Meski menjadi perhatan, tapi juga kerap dijadikan warga sebagai tempat ritual. Sesaji berupa dupa, air dan bunga-bunga sering diletakkan di makam berada dalam RT 03 RW 05 Kelurahan Sokanegara itu.  Banyak warga yang datang pada malam hari, untuk memberi sesaji dan melakukan ritual.

Meski begitu ritual orang di makam Ragasemangsang itu tak mengganggu aktivitas warga yang sering lalu lalang di jalan kota tersebut. Makam Ragasemangsang riwayatnya kini masih misteri. Namun, orang-orang percaya bahwa kubur itu tempat peristirahatan “orang sakti”. Riwayat dan namanya masih simpang siur


Ada dua kisah asal muasal makam itu yang berkembang dari cerita rakyat. Sebagian warga percaya bahwa jasad di balik makam itu orang yang memiliki pancasona, ilmu kebal yang tumbuh di tanah Jawa. Orang yang memiliki ilmu itu jika terluka akan sembuh seketika. Pemilik ajian ini bisa mati hanya jika ia tidak menyentuh tanah.

Orang sakti itu kemudian bertarung dengan Kiai Pekih, yang konon adalah tokoh masyarakat yang hidup di lingkungan yang sama. Karena dianggap meresahkan, Kiai Pekih kemudian bertarung dengan orang sakti pemilik ajian pancasona itu.


Karena mengetahui kelemahannya, Kyai Pekih mengalahkan orang sakti itu dengan menggantungnya di sebuah pohon besar. Warga yang melihat hal tersebut kemudian menyebut sosok yang tergantung itu sebagai Ragasemangsang.


Dalam bahasa Jawa, Raga artinya tubuh atau jiwa, sedangkan semangsang artinya menyangkut atau menyangsang. Karena kesaktiannya itu dan takut terjadi apa-apa, tempat Ragasemangsang mati tidak diapa-apakan dan dibuat makamnya.

Sedangkan makam Kiai Pekih ada di gang sebelah barat pendopo Bupati Banyumas. Seolah kedua makam itu menjadi pengingat tentang kebajikan melawan kejahatan di pusat kota yang dijuluki Kota Satria itu.


Baca Juga : Kisah Nyata Misteri Pernikahan Manusia dengan Jin


Versi kedua yang berkembang di masyarakat berlatar masa perjuangan melawan penjajah. Namun, tidak pula jelas penjajah mana yang berkuasa saat itu. Sebagai penghargaan atas jasa pejuang, maka tempatnya menghembuskan napas terakhir dijadikan makam dan dirawat. Dari pejuang tersebut tidak ditemukan data diri. Oleh sebab itu, masyarakat menyebutnya sebagai Ragasemangsang.